KAPPAK Menilai Sikap GAR ‘Kurang Tepat’ Terkait MWA ITB, Prof.Dr. M. Din Syamsuddin

satunusantaranews, Jakarta - Prof.Dr.Ir. H. Koesmawan, M.Sc., M.BA., DBA selaku pakar bidang manajemen Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta dan juga sebagai salah satu anggota Keluarga Alumni ITB Penegak Pancasila Anti Komunis (KAPPAK) menyatakan dinilai kurang tepat dengan apa yang disimpulkan pihak Gerakan Anti Radikalisme (GAR) dalam siaran persnya terkait dengan pemilihan Prof.Dr. M. Din Syamsuddin sebagai MWA ITB.
Seperti diketahui, dalam siaran pers GAR tertanggal 16 Juli 2020 menyimpulkan bahwa pemilihan Prof.Dr. M. Din Syamsuddin untuk menjadi wakil masyarakat di MWA ITB dinilai sangat tidak tepat. Karena terbukti perilaku politik praktisnya melanggar ketentuan-ketentuan Undang-Undang Pendidikan Tinggi maupun Peraturan Pemerintah tentang Statuta ITB.
Selain itu, juga tertulis bahwa dengan pertimbangan secara menyeluruh, kehadiran Prof.Dr. M. Din Syamsuddin di ITB nyata-nyata berdampak merugikan ITB. Oleh karenanya Gerakan Anti Radikalisme – Alumni Institut Teknologi Bandung meminta kepada MWA ITB dan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, agar segera memberhentikan Prof.Dr. M. Din Syamsuddin sebagai anggota MWA ITB.
"Kami percaya bahwa Senat Akademik (SA) ITB tentu telah mempertimbangkan dari berbagai sudut pandang secara objektif dan matang serta pengajuan beliau berdasarkan kapasitas kenegarawanan dan intelektualitas yang beliau miliki," tegas Prof.Koesmawan, Sabtu (17/7/2020).
Prof. Koesmawan pun menegaskan kembali, jika ada dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh Prof. Dr. KH. Din Syamsudin, maka semestinya MWA ITB membentuk panitia penyidik/pengumpulan data/fakta, lalu mengadakan sidang terbuka, dan yang bersangkutan juga diberi kesempatan untuk membela diri.
Dengan kata lain, jika mekanisme ini dilakukan maka hal tersebut menunjukkan bahwa ITB adalah kampus yang beradab dan mengedepankan sifat - sifat obyektifitas yang merupakan ciri utama pendidikan tinggi teknik dan sains.
"Kami prihatin dan kecewa kepada sdri Yani Panigoro selaku Ketua MWA ITB karena telah menyebarkan informasi ke ruang publik, yang menimbulkan kegaduhan sosial di tengah suasana keprihatinan nasional menghadapi Covid-19," ujarnya.
Dan apabila kehadiran Prof.Dr. M. Din Syamsuddin di ITB nyata-nyata berdampak merugikan bagi ITB sebagaimana disampaikan pihak GAR, maka dirinya mewakili 1721 alumnus yang tergabung pada KAPPAK sepakat jika dugaan tersebut benar maka sudah pasti MWA ITB membentuk panitia penyidik/pengumpulan data/fakta, lalu mengadakan sidang terbuka, dan yang bersangkutan juga diberi kesempatan untuk membela diri, tegasnya.
"Kami mendukung seluruh anggota komunitas ITB termasuk anggota MWA ITB, dalam hal ini Prof.Dr.KH. Din Syamsudin, untuk bebas menyampaikan aspirasi dan pandangannya sesuai dengan kapasitas pribadinya, sebagai kontribusi pemikiran bagi kemajuan dan kemandirian bangsa dan negara ini," ucap Koesmawan.
Kebebasan menyampaikan aspirasi merupakan sebagai bagian dari bentuk kebebasan demokrasi sebagaimana yang telah diatur dalam perundang-undangan dan juga sejak dulu telah diperjuangkan ITB sehingga ITB dikenal sebagai kampus yang menghargai sikap kritis, pungkasnya.
Polemik yang terjadi di dalam wadah alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) kian memanas. Hal tersebut menyusul adanya permintaan alumnus ITB mengatasnamakan diri sebagai Gerakan Anti Radikalisme (GAR) yang menilai bahwa Din Syamsudin telah melanggar pedoman dasar institusi pendidikan tersebut.
Penulis: Tjoek JBM
Editor: Gadisa Niken A
Photographer: Bimata/Koran Bogor
Sumber: Danu

Baca Juga