Rapat Kerja Komite I DPD RI – Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bahas Pemindahan Ibu Kota Negara

Rapat Kerja Komite I DPD RI - Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bahas Pemindahan Ibu Kota Negara
Rapat Kerja Komite I DPD RI - Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bahas Pemindahan Ibu Kota Negara

satunusantaranews, Jakarta - Komite I DPD RI melakukan rapat kerja bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa membahas rencana pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kalimantan Timur (14/12). Dan fokus pembahasan rapat terkait penyusunan Rancangan Undang-Undang Ibu Kota Negara (RUU IKN) yang telah diselesaikan pemerintah.

Ketua Komite I DPD RI, Fachrul Razi mengatakan, terdapat beberapa hal yang perlu dipikirkan secara matang terkait dengan pemindahan ibu kota negara. Seperti skenario pembiayaan pembangunan (IKN), jaminan keberlanjutan pemindahan ibu kota negara meski terjadi pergantian kepemimpinan di tahun 2024, atau implikasi politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan terkait pemindahan ibu kota negara.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menjelaskan bahwa IKN akan dibangun secara bertahap layaknya pembangunan sebuah kota baru. Pemindahan dimulai tahun 2022-2024. Pembangunan area inti tahun 2025-2035. Pembangunan infrastruktur dan ekosistem 3 kota untuk akselerasi pemabangunan di Kalimantan Timur tahun 2035-2045, dan pasca tahun 2045 mengukuhkan reputasi IKN sebagai kota dunia untuk semua.

Dalam hal pembiayaan, lanjut Suharso, pemerintah memastikan tidak menggerus social transfer yang telah dan akan dialokasikan ke depan. Hingga tahun 2024 pembangunan IKN akan menggunakan anggaran dengan alokasi 53,3% bersumber dari APBN dan 46,7% bersumber dari KPBU, swasta dan BUMN.

"Pemerintah telah menghitung kebutuhan pendanaan jangka menengah melalui APBN. Dan akan memaksimalkan sumber pembiayaan yang tersedia sehingga meminimalkan beban APBN. Pada tahun 2024 dan seterusnya, pemerintah akan meningkatkan investasi KPBU, swasta, dan lainnya," imbuhnya.

Suharso pun memaparkan isi dari RUU IKN yang disusun pemerintah. Menurutnya terdapat tujuh elemen dalam RUU IKN. Pertama adalah pemindahan status IKN, kedua visi dan prinsip pengelolaan, ketiga cakupan wilayah pengelolaan, keempat rencana induknya, kelima bentuk susunan dan urusan khusus ibu kota negara, keenam penataan ruang, dan ketujuh pertanahan.

Menanggapi pemaparan dari Suharso, Fachrul Razi mengatakan tahapan pemindahan ibu kota masih yang paling penting. Karena untuk membangun sebuah kota dalam waktu singkat sangatlah tidak mungkin. Dirinya berharap agar tahapan tersebut dapat diatur dalam RUU IKN.

"Milestone ini yang sangat penting. Semalam (rapat antara Pansus IKN DPR dengan Bappenas-red) itu permasalahannya adalah kita terjebak dengan istilah pindah ibu kota, bukan pindah status. Dan ini yang tidak dijelaskan oleh pemerintah. Bagaimana bisa mendirikan sebuah ibu kota baru dalam waktu setahun," ucapnya.

Fachrul juga menekankan pada konstruksi hukum terhadap sistem pemerintahan di IKN yang baru. Dirinya menjelaskan bahwa berbagai daerah memiliki konstruksi hukum pemerintahan yang berbeda-beda, seperti di Aceh dengan keistimewaannya, Papua, Bangka Belitung, Riau, ataupun Batam.

Dalam kesempatan yang sama, Senator dari Kalimantan Selatan Habib Abdurrahman Bahasyim mengatakan bahwa dirinya mendukung pembangunan IKN di Kalimantan dengan alasan untuk mewujudkan pembangunan. Tetapi dirinya juga merasa prihatin, karena di Kalimantan masih banyak daerah yang pembangunannya tertinggal.

"Di Kalimantan kota-kotanya sangat ketinggalan. Kami di Kalimanan tidak pernah merasakan jalan tol," ucapnya.

Belum selesai Habib Abdurrahman Bahasyim menyelesaikan tanggapannya, Fachrul menghentikan kalimat Habib Abdurrahman ketika melihat Suharso tampak menunduk. Fachrul pun mengira Suharso sedang tidak enak badan.

“Saya kedukaan. Saya punya sahabat, kader saya yang terbaik, Haji Lulung meninggal,” ucap Suharso sambil sedikit terisak.

Menanggapi jawaban dari Suharso, yang mengabarkan bahwa politisi PPP Abraham Lunggana atau Haji Lulung meninggal dunia, Fachrul pun akhirnya menghentikan rapat kerja tersebut.

"Rapat kita tunda saja. Mari kita kirimkan surat Al Fatihah, semoga almarhum bisa ditempatkan di tempat yang mulia. Kita tunda saja, karena perjalanan pembahasan RUU ini masih panjang. Dan banyak hal yang bisa kita dukung terhadap RUU ini. Karena ini menjadi sebuah solusi bagi Indonesia di masa depan," ucap Fachrul.

Penulis: Bambang Tjoek
Editor: Nawasanga

Baca Juga