Perubahan Iklim, Tanggung Jawab Siapa?

satunusantaranews, Tanjung Jabung Timur Kerusakan lingkungan yang saat ini tengah di hadapi oleh masyarakat Internasional yang di khawatirkan oleh sejumlah negara di dunia, bukanlah merupakan isu basi, tapi ini sudah menjadi ancaman.

Menurut saya ada dua persoalan yang saat ini menjadi ancaman bagi kita semua yaitu Pemanasan Gobal dan Perubahan Iklim yang sudah berada di fase yang sangat memprihatinkan bagi kita semua.

Ancaman itu merupakan sinyal dan pesan bagi kita semua, bahwa ancaman itu sudah mengingatkan kita semua. Mencairnya bungkahan es yang ada di kutub antartika, tentunya dapat menyebabkan ke khawatiran terhadap meningginya permukaan air laut yang di khawatirkan dapat menenggelamkan kota-kota besar di dunia.

Saya bukanlah pakar atau ahli di bidang lingkungan hidup, namun saya banyak belajar dari pengalaman yang ada di negara saya, sebagai salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki hutan tropis.

Namun saat ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan, dimana aktivitas illegal logging masih menjadi ancaman serius.

Padahal hutan Indonesia di harapkan sangat berperan sebagai hutan paru-paru dunia yang dapat menyumbangkan carbon dalam menekan tingkat emisi, akibat pengaruh rumah kaca dan polusi udara yang dihasilkan oleh industri.

Kerusakan ekosistem yang saat ini terjadi di sejumlah negara-negara maju dan negara berkembang, tentunya merupakan bukti bahwa kita telah melakukan penganiayaan terhadap lingkungan.

Aktivitas illegal logging, pertambangan batubara, Galian C, Pembukaan lahan perkebunan Sawit merupakan sederetan persoalan yang dapat mengancam kelangsungan ekosistem.

Akhirnya tahun 2000 saya bersama teman-teman membentuk lembaga swadaya masyarakat dengan nama Forum Komunikasi Masyarakat Desa di Nipah Panjang, salah satu Kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.

Bidang kegiatannya pengawasan terhadap illegal logging dan rehabilitasi kawasan hutan bakau di sepanjang pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Tahun 2002, tepatnya 18 tahun yang lalu, saya bersama teman-teman berhasil mengungkap aktivitas illegal logging di wilayah Konservasi Taman Nasional Berbak yang merupakan salah satu kawasan Konservasi Hutan Rawa Gambut di wilayah Provinsi Jambi, dengan luas 167.700 hektar.

Dimana 139.000 hektar berada di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Muaro Jambi dan Berbak Sembilang Provinsi Sumatera Selatan.

Keberadaan Taman Nasional Berbak yang merupakan salah satu paru-paru dunia, tentunya menjadikan Taman Nasional Berbak sebagai salah satu hutan rawa gambut terluas di kawasan Asia Tenggara.

Kehadiran lembaga swadaya masyarakat yang kami bentuk, segala kegiatan bersumber dari dana swadaya anggota tanpa ada dukungan dari pemerintah daerah, pusat maupun melalui lembaga donor dari berbagai negara.

Upaya yang telah kami lakukan, telah berhasil melakukan tekanan dengan meminta kepada pemerintah daerah untuk menutup seluruh sawmill liar yang beroperasi di sepanjang bantaran Sungai Batanghari.

Bahkan dalam kegiatan operasi penertiban pembalakan liar tersebut, melibatkan pihak kepolisian, kejaksaan dan Dinas Kehutanan setempat. Akhirnya keterbatasan biaya operasional membuat lembaga kami tidak lagi melakukan kegiatan pengawasan terhadap illegal logging hingga sampai saat ini.

Padahal sejumlah persoalan kerusakan masih saja terjadi, mulai dari pembalakan liar, penambang galian C secara illegal dan persoalan pembukaan lahan perkebunan sawit, merupakan ancaman serius.

Oleh sebab itu saya minta kepada negara-negara di dunia, khususnya lembaga donor dan aktivis lingkungan hidup dunia diantaranya, Greta Thunberg, Greenpeace International, untuk mendukung upaya-upaya yang kami lakukan bersama teman-teman.

Melalui lembaga baru yang kami beri nama Lingkar Hijau Pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur, saat ini masih mengurus legalitas pengesahannya. Dan untuk informasi dapat menghubungi kami melalui email : komunitaslingkarhijaupesisir@gmail.com.

Bidang kegiatan kami, Rehabilitasi hutan bakau sebagai sarana edukasi, pengembangan eko wisata hutan bakau dan pembinaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan keramba Budidaya Kepiting Bakau.

Target tersebut diharapkan dapat tercapai dalam membantu masyarakat untuk mengenal tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup dalam menyelamatkan biota-biota laut, maupun penyelamatan kelangsungan ekosistem bagi kita semua.

Terutama menekan tingginya tekanan abrasi pantai akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

Greta Thunberg #YouGoGreta #ClimateStrike salah seorang gadis belia yang terus melakukan kampanye tentang persoalan perubahan iklim patut kita dukung dan saya mengajak kepada seluruh masyarakat International untuk mendukung upaya upaya yang dilakukan oleh Greta Thunberg Climate Protection dalam melawan perubahan iklim.

Terima kasih kepada seluruh masyarakat International yang ada di seluruh dunia, saatnya kita bersatu melawan perubahan iklim.

Penulis: Arie Suriyanto
Editor: Bambang P
Photographer: Fokmades Tanjabtim
Sumber: Fokmades Tanjabtim

Baca Juga