Jakarta, satunusantaranews.co.id – Publik mengapresiasi semangat Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan perubahan besar di tubuh POLRI, semangat reformasi POLRI laksana angin segar di tengah perjalanan pemerintahan Presiden Prabowo yang baru berlangsung untuk membangun kembali POLRI yang utuh, tegak lurus, berintegritas, humanis dan kembali sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.
Bukan hanya sekedar isu, reformasi POLRI dibutuhkan untuk kembali menata korps Bhayangkara Negara yang dalam perjalanannya diterpa persoalan panjang tidak hanya dimulai dari fenomena kasus Irjen Ferdy Sambo namun sederet kasus internal dan eksternal POLRI sampai pada buntut kematian Affan Kurniawan pria Ojek Online yang tewas terlindas Rantis Brimob dalam rusuh Jakarta Agustus silam.
Setelah mengadakan pertemuan dengan para tokoh nasional Presiden Prabowo akhirnya sepakat untuk mengadakan reformasi di tubuh institusi besar ini. Beberapa pengamat ingin perubahan mendalam pada sistem dan struktur POLRI demi perubahan besar yang diharapkan. Jika hanya sekedar pergantian pimpinan maka reformasi POLRI dipandang hanya akan mengalami stagnasi sebagaimana penyegaran sementara atau pergantian pimpinan biasa.
Sampai hari ini pimpinan POLRI Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah menjabat lebih dari 4 tahun yang dimulai sejak Januari 2021 sekaligus menempatkan Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai salah satu dari Kapolri dengan jabatan terlama di Indonesia. Lamanya jabatan pimpinan POLRI ini pula dinilai tidak sehat bagi sebuah institusi serta untuk menghindari pimpinan POLRI dari konflik kepentingan.
Bagi penulis reformasi di tubuh POLRI tak luput pula harus menyentuh perspektif keadilan bagi figur putera terbaik bangsa yang memiliki kompetensi, kredibilitas serta berintegritas tinggi untuk memimpin POLRI. Penulis memberikan kredit kepada KomjenPol Marthinus Hukom putera Indonesia Timur asal Maluku seorang perwira tinggi POLRI aktif yang baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI pada 25 Agustus 2025 lalu.
Marthinus Hukom memulai karier kepolisiannya setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Kepolisian pada 1991, Hukom memiliki rekam jejak yang gemilang ia tercatat mengalami kenaikan pangkat luar biasa setelah berhasil membongkar dan menangkap dalang peristiwa Bom Bali I, Bom Bali II, Bom Hotel JW Marriott, Dr. Azhari, yang menewaskan ratusan warga dalam dan luar negeri.
Marthinus juga menjabat Wakil Kepala Detasemen Khusus 88 AT POLRI, Direktur Intelijen BNPT dan menjabat Kepala Densus 88 Anti Terror pada 2020-2023 kemudian dipercaya menjabat Kepala BNN RI pada 2023-2025.
Reformasi pada tubuh POLRI adalah upaya menyeluruh dan maksimal untuk mengembalikan POLRI pada marwahnya, juga keadilan diberikan bagi putera terbaik Indonesia Timur asal Maluku untuk mengemban amanat sebagai pimpinan POLRI karena Indonesia adalah tumpah darah dari Sabang sampai Merauke, saatnya untuk Putera Maluku pimpin Kepolisian sesuai baktinya untuk bangsa dan negara.










